Banyak Wartawan Yang Miskin Walaupun Pilar 4 Demokrasi
BICARA tentang wartawan membuat pikiran saya melayang pada ke idealisan dan jiwa kokoh pada kehidupan untuk menyampaikan informasi pada masyarakat secara murni tanpa digoreng. Karena bicara wartawan atau jurnalis adalah sesuatu yang idealis.
Tapi pikiran ini tergerus setelah berumah tangga. Apakah tetap pada pendirian untuk memberikan informasi yang layak pada masyarakat atau masih merasa perlu tidaknya berikan informasi tapi masih meraba-raba.
Ketika saya memasuki suatu kelompok atau ikatan kewartawanan di Pekanbaru, Saya terhentak pada kata-kata pengantar Nara sumber atau wartawan senior, "Wartawan tidak boleh terima uang tapi amplop boleh", papar nya.
Jadi narasumber senior itu menerangkan, wartawan itu harus terima gaji dari perusahaan, kehidupannya harus dijamin perusahaan pers. Kalau wartawan terima amplop belum tentu isi amplop uang, mungkin surat cinta atau blangko undangan nikah.
Padahal banyak kita dengar dan baca wartawan banyak dicibir atau dihujat bahkan ditindas.
Kemudian banyak yang bicara ditengah masyarakat, jangan bicara idealis atau kebebasan menulis tapi perut saja masih kelaparan. Pergi meliput pakai sandal dan tidak punya kendaraan.
Dulu penulis pernah jadi wartawan Kampus di universitas Bung Hatta. Di koran kampus yang namanya Wawasan Proklamator.
Idealis dimulai dar sini (wartawan Kampus). Tidak memikirkan untuk biaya makan dan minum kopi tapi memikirkan bagaimana bisa terbit koran kampus dari dana kemahasiswan setiap bulan nya.
Tentu harus ber elok -elok dengan wakil rektor 3 bidang kemahasiswaan. Yang komunikasi dengan pihak rektorat bagus. Bahkan jangan dimasukkan wartawan Kampus yang senior karena tidak mau berkolaborasi dengan pihak rektorat dalam pemberitaan. Tentu penulis iyakan, asal koran kampus tetap terbit. Itulah romantika dalam penerbitan koran kampus, karena masih mengandalkan uang dari kampus. Kemandirian ada, tapi diciutkan kapan terbit nya korannya.
Ini dialami penulis dimasa kuliah (1994-2000). Dimasa orde baru menuju orde reformasi dalam menulis sungguh keberanian yang mungkin dialami penulis dalam menulis. Karena waktu itu Media Online atau siber belum ada.
Walaupun menjadi wartawan Kampus dimasa itu, tapi membuat idealis penulis berpikir, bahwa wartawan adalah pekerjaan yang mulia tanpa perlu uang. Jika cari uang harus kerja lain atau bisnis lain.
Tapi penulis tidak bicara tentang wartawan kampus tapi wartawan sebagai pokok dan mata pencaharian. Sehingga penulis punya kesimpulan banyak wartawan yang miskin terutama yang bekerja sebagai freelancer atau di media kecil, memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah atau rentan secara finansial.
Berikut adalah beberapa faktor penyebab utamanya berdasarkan laporan dan penyelusuran penulis adalah banyak faktor.
Pertama sekali status Karyawan Tidak Tetap. Hampir lebih separuh wartawan di Indonesia bekerja sebagai freelancer atau kontrak, yang membuat penghasilan mereka tidak stabil dan tidak memiliki kepastian kerja.
Kedua bayaran Rendah. Karena banyak wartawan, khususnya di daerah atau tempat terpencil atau media digital baru atau media kecil menerima bayaran per artikel yang sangat kecil, seringkali antara Rp100.000 hingga Rp500.000, padahal proses pengerjaannya memakan waktu berhari-hari. Bisa cepat dalam penulisan tapi kebanyakan cuma copy paste.
Ketiga kebanyakan tidak ada Perlindungan BPJS: Hanya bagian kecil saja wartawan yang dilaporkan mendapatkan perlindungan BPJS Ketenagakerjaan dari perusahaan tempat mereka bekerja. Itupun jika perusahaan pers mau terdaftar atau mau terverifikasi Dewan Pers. Setelah itu tidak jelas seperti ditelan bumi. Padahal persatuan perusahaan pers dibawah Dewan Pers lebih dari satu selain persatuan atau ikatan wartawan.
Keempat cara atau model Bisnis Media yang Tidak Sehat: Beberapa perusahaan pers media cenderung menempatkan wartawan sebagai alat produksi murah, sementara pemilik media berfokus pada bisnis iklan, menyebabkan wartawan hidup pas-pasan atau bahkan terlilit utang.
Kelima beban Kerja yang Tinggi. Wartawan atau jurnalis sering dihadapkan pada tekanan pekerjaan yang tinggi, dikejar tenggat waktu (deadline), dan dituntut menghasilkan berita terus-menerus, namun tidak diimbangi dengan remunerasi yang layak.
Kondisi ini memicu keprihatinan serius mengenai integritas dan idealisme jurnalisme karena tekanan ekonomi yang menghimpit serta dorongan keluarga atas wartawan atas kebutuhan yang melonjak.
Sehingga penulis jatuh pada kesimpulan bahwa wartawan identik dengan kemiskinan jika tetap pada keidealisan nya dan tidak memikirkan bahwa uang adalah segala-galanya.
Titik nadirnya adalah akses keluar dari kemiskinan atau akses keluar wartawan dari kemiskinan cuma retorika atau jalur nya wartawan itu yang buat mereka miskin.
Sekarang ini ada akses program pemerintah Indonesia di kabinet Probowo Gibran tentang perumahan wartawan atau niat pribadi wartawan keluar dari kemiskinan memang tidak ada. Padahal wartawan adalah pilar keempat demokrasi. Antalah.








